Sabtu, 24 April 2010
Selasa, 20 April 2010
Senin, 19 April 2010
ALQuran..
Seandainya Al-Qur'an Bisa BicaraBagikan
Hari ini jam 21:21
Holy Qur'an is my name [kitab suci Al-Qyr'an adalah namaku]
I am a book in elegant prints [Aku kitab yang dicetak sangat cantik]
To know my name, here are some hints [untuk tau tentang aku, ada beberapa petunjuk]:
Rich in cover and nicely bound [Aku diberi sampul mewah nan indah]
I found in every muslims home [Aku pasti ada di setiap rumah orang muslim]
but [TAPI]
in hearts of muslim Iam rarely found [di dalam hati setiap setiap muslim aku jarang ditemukan]
High on a shelf, Iam left [Aku diletakkan di atas rak yang tinggi]
Forgotten there, Iam left [dibiarkan disana, aku tertinggal dan dilupakan]
Sometime they put me on dirty places to dispel ghost and jinn as they said
[terkadang aku diletakkan di tempat-tempat kotor , katanya untuk mengusir hantu dan jin]
And forgotten there, I am left too [dan di sana juga aku dibiarkan, tertinggal dan dilupakan]
With respect I do get lots of kiss after reading [dengan penuh hormat aku banyak di cium setiap kali selesai dibaca]
But [TAPI]
My main point is what they always miss [pelajaran dan petunjuk utama yang ada padaku selalu terlupakan]
Neglecting the message inside me [mereka mengabaikan pesan yang ada padaku]
At times I am used for phony swear [adakalanya aku digunakan untuk bersumpah palsu]
My true use is very very rare [kegunaanku yang sebenarnya sangat-sangat jarang diperhatikan]
A miracle I am that can chage the world [sungguh betapa ajaibnya aku bisa mengubah dunia]
All one has to do is understand my word [yang semestinya mereka lakukan adalah memahami perkataanku]
I have law [aku punya hukum]
I have wisdom [aku punya kebijaksanaan]
I have treasure [aku punya sesuatu yang sangat berharga]
So much so there is no measure [dan banyak yang aku punya tidak bisa kau hitung]
I'm your savior [aku sang juru penyelamatmu]
I'm your guaide [aku penuntunmu]
I'm from Allah the creator of universe [aku diturunkan dari Allah Sang pencipta alam semesta]
I was taught by our prophet Muhammad SAW and depended with tear and blood
[aku diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dipertahankannya dengan air mata dan darah]
Right from wrong is my fame [memperingatkan kebenaran adalah kemasyhuranku]
so,, you must read me, learn me, and told everyone the content of me
[maka bacalah aku, pelajarilah aku, dan sampaikan isi yang ada padaku]
Because,,,,,,
Holy Qur'an is My Name.....
Hari ini jam 21:21
Holy Qur'an is my name [kitab suci Al-Qyr'an adalah namaku]
I am a book in elegant prints [Aku kitab yang dicetak sangat cantik]
To know my name, here are some hints [untuk tau tentang aku, ada beberapa petunjuk]:
Rich in cover and nicely bound [Aku diberi sampul mewah nan indah]
I found in every muslims home [Aku pasti ada di setiap rumah orang muslim]
but [TAPI]
in hearts of muslim Iam rarely found [di dalam hati setiap setiap muslim aku jarang ditemukan]
High on a shelf, Iam left [Aku diletakkan di atas rak yang tinggi]
Forgotten there, Iam left [dibiarkan disana, aku tertinggal dan dilupakan]
Sometime they put me on dirty places to dispel ghost and jinn as they said
[terkadang aku diletakkan di tempat-tempat kotor , katanya untuk mengusir hantu dan jin]
And forgotten there, I am left too [dan di sana juga aku dibiarkan, tertinggal dan dilupakan]
With respect I do get lots of kiss after reading [dengan penuh hormat aku banyak di cium setiap kali selesai dibaca]
But [TAPI]
My main point is what they always miss [pelajaran dan petunjuk utama yang ada padaku selalu terlupakan]
Neglecting the message inside me [mereka mengabaikan pesan yang ada padaku]
At times I am used for phony swear [adakalanya aku digunakan untuk bersumpah palsu]
My true use is very very rare [kegunaanku yang sebenarnya sangat-sangat jarang diperhatikan]
A miracle I am that can chage the world [sungguh betapa ajaibnya aku bisa mengubah dunia]
All one has to do is understand my word [yang semestinya mereka lakukan adalah memahami perkataanku]
I have law [aku punya hukum]
I have wisdom [aku punya kebijaksanaan]
I have treasure [aku punya sesuatu yang sangat berharga]
So much so there is no measure [dan banyak yang aku punya tidak bisa kau hitung]
I'm your savior [aku sang juru penyelamatmu]
I'm your guaide [aku penuntunmu]
I'm from Allah the creator of universe [aku diturunkan dari Allah Sang pencipta alam semesta]
I was taught by our prophet Muhammad SAW and depended with tear and blood
[aku diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dipertahankannya dengan air mata dan darah]
Right from wrong is my fame [memperingatkan kebenaran adalah kemasyhuranku]
so,, you must read me, learn me, and told everyone the content of me
[maka bacalah aku, pelajarilah aku, dan sampaikan isi yang ada padaku]
Because,,,,,,
Holy Qur'an is My Name.....
Layang-layang
Kamis, 15/04/2010 09:37 WIB | email | print | share
Seorang anak sembilan tahun menatapi keelokan layang-layang yang baru saja dibawa sang ayah dari kota. Ukurannya begitu besar, tidak seperti layang-layang temannya. Ada kunciran di sisi kanan dan kiri, dan terdapat ekor yang begitu panjang. Warna-warni kunciran dan ekor layang-layang mengundang keceriaan sang anak.
Setibanya di tanah lapang, sang anak mendampingi ayahnya memainkan layang-layang yang ukurannya lebih besar dari tubuh sang anak. Tiupan angin kencang menerbangkan layang-layang elok ke angkasa. Kunciran dan ekor terus berurai-urai membentuk irama gerak yang begitu indah.
Sesekali, sang anak mencoba berganti posisi dengan sang ayah untuk belajar mengendalikan terbangnya layang-layang. Ia pun berdecak kagum. Matanya berbinar menatapi keelokan layang-layang yang sedang terbang tinggi di angkasa.
“Ayah,” ucap sang anak tiba-tiba. Sang ayah pun menoleh ke arah buah hatinya. “Ayah, andai aku bisa seperti layang-layang. Bisa terbang dengan begitu elok di angkasa sana, sambil memperlihatkan keindahan kepada orang-orang di bawahnya,” tambah sang anak sambil terus menatapi gerak-gerik layang-layang.
Mendengar ucapan itu, sang ayah pun membelai rambut pendek anaknya. “Sebaiknya kamu tidak berandai untuk menjadi layang-layang, anakku!” ucap sang ayah.
“Kenapa, ayah? Kalau saja aku bisa seperti layang-layang, bukankah aku bisa menatap seluruh keadaan di bawah sini,” sergah sang anak penuh tanda tanya.
“Anakku, jangan pernah berandai menjadi layang-layang. Perhatikanlah, walaupun layang-layang berada di tempat yang begitu tinggi, tapi ia tetap di bawah kendali oleh mereka yang di bawah,” jelas sang ayah begitu bijak.
**
Siapa pun kita, dalam optimisme meraih posisi hidup yang lebih baik, tentu ingin selalu berada di tempat yang tinggi. Ingin menjadi leader, sang pemimpin yang disegani, menjadi orang teratas di organisasi, perusahaan, bahkan mungkin negara. Sebuah cita-cita hidup seperti yang diajarkan Alquran, waj’alna lil muttaqina imama, jadikanlah kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Namun, berhati-hatilah ketika optimisme meraih posisi tinggi itu tidak sejalan dengan idealisme dan kemampuan diri yang memadai. Karena kita bisa seperti layang-layang. Berada di posisi yang paling tinggi, sementara sang pengendali ada di bawah.
Ia berada di posisi tinggi karena ada ‘tangan-tangan’ di bawah yang membuatnya tinggi. Keelokannya di ketinggian itu hanya permainan sang ’tangan’ dan tiupan angin.
Kamis, 15/04/2010 09:37 WIB | email | print | share
Seorang anak sembilan tahun menatapi keelokan layang-layang yang baru saja dibawa sang ayah dari kota. Ukurannya begitu besar, tidak seperti layang-layang temannya. Ada kunciran di sisi kanan dan kiri, dan terdapat ekor yang begitu panjang. Warna-warni kunciran dan ekor layang-layang mengundang keceriaan sang anak.
Setibanya di tanah lapang, sang anak mendampingi ayahnya memainkan layang-layang yang ukurannya lebih besar dari tubuh sang anak. Tiupan angin kencang menerbangkan layang-layang elok ke angkasa. Kunciran dan ekor terus berurai-urai membentuk irama gerak yang begitu indah.
Sesekali, sang anak mencoba berganti posisi dengan sang ayah untuk belajar mengendalikan terbangnya layang-layang. Ia pun berdecak kagum. Matanya berbinar menatapi keelokan layang-layang yang sedang terbang tinggi di angkasa.
“Ayah,” ucap sang anak tiba-tiba. Sang ayah pun menoleh ke arah buah hatinya. “Ayah, andai aku bisa seperti layang-layang. Bisa terbang dengan begitu elok di angkasa sana, sambil memperlihatkan keindahan kepada orang-orang di bawahnya,” tambah sang anak sambil terus menatapi gerak-gerik layang-layang.
Mendengar ucapan itu, sang ayah pun membelai rambut pendek anaknya. “Sebaiknya kamu tidak berandai untuk menjadi layang-layang, anakku!” ucap sang ayah.
“Kenapa, ayah? Kalau saja aku bisa seperti layang-layang, bukankah aku bisa menatap seluruh keadaan di bawah sini,” sergah sang anak penuh tanda tanya.
“Anakku, jangan pernah berandai menjadi layang-layang. Perhatikanlah, walaupun layang-layang berada di tempat yang begitu tinggi, tapi ia tetap di bawah kendali oleh mereka yang di bawah,” jelas sang ayah begitu bijak.
**
Siapa pun kita, dalam optimisme meraih posisi hidup yang lebih baik, tentu ingin selalu berada di tempat yang tinggi. Ingin menjadi leader, sang pemimpin yang disegani, menjadi orang teratas di organisasi, perusahaan, bahkan mungkin negara. Sebuah cita-cita hidup seperti yang diajarkan Alquran, waj’alna lil muttaqina imama, jadikanlah kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Namun, berhati-hatilah ketika optimisme meraih posisi tinggi itu tidak sejalan dengan idealisme dan kemampuan diri yang memadai. Karena kita bisa seperti layang-layang. Berada di posisi yang paling tinggi, sementara sang pengendali ada di bawah.
Ia berada di posisi tinggi karena ada ‘tangan-tangan’ di bawah yang membuatnya tinggi. Keelokannya di ketinggian itu hanya permainan sang ’tangan’ dan tiupan angin.
Langganan:
Postingan (Atom)